This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 27 Agustus 2024

Proses Diseminasi Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk Pembelajaran Berbasis Kasih Sayang dengan Integrasi Pembelajaran Sosial Emosional

Oleh : Abdul Rohman, S.Pd, Gr
Guru Mapel di SMKN 1 Cilengkrang
 

Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang bertujuan untuk menerapkan pembelajaran berbasis kasih sayang dengan integrasi pembelajaran sosial emosional (PSE). Berikut adalah langkah-langkah dalam proses diseminasi:

  1. Persiapan:
    • Kolaborasi dengan Komunitas Belajar (Kombel): Guru-guru berkumpul bersama dalam Kombel untuk merencanakan dan mempersiapkan RTL.
    • Penentuan Jadwal Diseminasi: Tanggal pelaksanaan diseminasi ditentukan bersama pengurus Kombel.
  2. Pelaksanaan:
    • Presentasi Berbagi Praktik Baik:
      • Guru-guru membagikan praktik baik terkait pembelajaran berbasis kasih sayang dan integrasi PSE.
      • Contoh praktik:  menanyakan kabar , ice breaking, dan berdoa.
    • Diskusi Kelompok:
      • Guru-guru berdiskusi dalam kelompok tentang penerapan PSE dalam pembelajaran.
      • Refleksi dan saling menghargai hasil kerja kelompok.
  3. Evaluasi dan Laporan:
    • Evaluasi Hasil Diseminasi:
      • Guru-guru mengevaluasi efektivitas penerapan PSE dan kasih sayang dalam pembelajaran.
      • Peningkatan kepercayaan diri siswa menjadi indikator keberhasilan.
    • Laporan Hasil Diseminasi:
      • Hasil diseminasi dan tindak lanjutnya didokumentasikan.

Manfaat Integrasi PSE dalam Pembelajaran:

  • Meningkatkan kepercayaan diri siswa.
  • Membangun hubungan yang sehat dan suportif.
  • Mengajarkan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Kesimpulan: Integrasi PSE dalam pembelajaran berbasis kasih sayang merupakan langkah penting untuk mendukung pengembangan holistik siswa.

Integrasi Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) dalam pembelajaran dapat diukur melalui beberapa langkah berikut:

  1. Identifikasi Komponen PSE:
    • Kenali komponen-komponen PSE yang akan diajarkan. Ini termasuk keterampilan sosial dan emosional yang relevan dengan konteks pembelajaran
  2. Pilih Strategi Pengajaran:
    • Pilih strategi pengajaran yang sesuai dengan tujuan integrasi PSE. Misalnya, mengajarkan keterampilan komunikasi, empati, atau pengelolaan emosi.
  3. Kembangkan Kegiatan dan Pelajaran:
    • Rancang kegiatan dan pelajaran yang mengajarkan keterampilan PSE secara eksplisit. Contohnya, role-play, diskusi kelompok, atau proyek kolaboratif.
  4. Terapkan dalam Kurikulum:
    • Integrasikan kegiatan dan pelajaran PSE ke dalam kurikulum mata pelajaran utama.
    • Pastikan PSE menjadi bagian integral dari pengalaman belajar siswa.
  5. Evaluasi Efektivitas Pengajaran PSE:
    • Lakukan evaluasi secara berkala untuk mengukur dampak integrasi PSE.
    • Pertimbangkan pengaruhnya terhadap kesejahteraan siswa, hubungan sosial, dan perilaku di kelas

Kamis, 22 Agustus 2024

Penerapan Disiplin Positif Melalui Segitiga Restitusi di Sekolah

 Oleh: Abdul Rohman, S.Pd, Gr

Pengajar SMKN 1 Cilengkrang 


Sekolah bukan hanya tempat untuk mempelajari pengetahuan akademik, tetapi juga lingkungan yang membentuk karakter dan perilaku siswa. Penerapan disiplin yang sehat menjadi penting, dan pendekatan tradisional sering lebih menekankan hukuman daripada pembelajaran. Oleh karena itu, disiplin positif, terutama melalui konsep segitiga restitusi, semakin relevan dalam pendidikan.

Apa itu segitiga restitusi? Ini adalah pendekatan dalam penerapan disiplin positif yang menekankan tiga komponen utama:

  1. Tanggung Jawab: Siswa diajarkan untuk mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka. Mereka harus memahami konsekuensi dari tindakan mereka dan siap memperbaiki kerusakan yang mereka sebabkan.
  2. Restorasi: Restitusi berfokus pada memperbaiki kerusakan yang terjadi akibat tindakan siswa. Ini bisa berupa meminta maaf, mengganti kerugian, atau tindakan lain yang membantu memulihkan hubungan dan situasi.
  3. Pertumbuhan Pribadi: Siswa belajar dari kesalahan, memahami konsekuensi tindakan mereka, dan membangun keterampilan sosial yang lebih baik.

Langkah-langkah penerapan segitiga restitusi di sekolah melibatkan pertemuan antara siswa, guru, dan bahkan orang tua. Tujuannya adalah membahas tindakan siswa, menciptakan kesadaran tentang dampaknya, dan mencapai kesepakatan tentang langkah-langkah perbaikan. Dengan menerapkan segitiga restitusi, kita dapat menciptakan budaya positif di kelas yang berfokus pada solusi, memperkuat hubungan, dan mengajarkan siswa tentang tanggung jawab dan empati. 

Dalam praktek baik yang telah dilakukan penulis ini adlah kasus siswa yang datang terlambat karena bangun kesiangan. Hal pertama yang dilakukan adalah menanyakan alasan kenapa datang kesiangan. siswa memberi keterangan bahwa penyebab kesiangannya adalah karena tidur setelah shalat subuh. kemudian ditanyakan kembali bagaimana menurut pendapat siswa tentang perbuatan nya tersebut apakah benar atau salah. kemudian siswa mengakui bahwa perbuatannnya salah, dan siswa tersebut menammbahkan jika secara hukum keyakinan yang dianutnya (islam) tidur setelah subuh itu dilarang oleh rosululloh SAW. kemudian ditanyakan apa yang akan dilakukan untuk perbaikan kedepannya. siswa menjawab bahwa tidak akan tidur setelah shalat subuh dan akan meminta bantuan teman sekamar (dipesantren) untuk mengingatkan. 

Mengajarkan siswa tentang tanggung jawab adalah langkah penting dalam membentuk karakter  mereka Berikut adalah cara yang dapat dilakukan:

  1. Modelkan Tanggung Jawab: Tunjukkan contoh tanggung jawab dalam tindakan sehari-hari. Misalnya, ketika Anda membuat kesalahan, akui dan perbaiki.
  2. Diskusikan Konsekuensi: Bicarakan konsekuensi dari tindakan siswa. Bagaimana tindakan mereka mempengaruhi orang lain? Apa dampaknya?
  3. Berikan Tugas dengan Tanggung Jawab: Berikan tugas yang memerlukan tanggung jawab, seperti merawat tanaman di kelas atau mengatur buku-buku.
  4. Refleksi: Setelah tindakan tertentu, mintalah siswa merenung. Apa yang bisa mereka pelajari? Bagaimana mereka bisa bertindak lebih baik di masa depan?

Senin, 19 Agustus 2024

Penerapan kompetensi dengan pendekatan Inkuiri Apresiatif

Oleh: Abdul Rohman, S.Pd, Gr

Pengajar SMKN 1 Cilengkrang  

Pendidikan merupakan proses yang dinamis dan menuntut inovasi dalam metode pembelajaran. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan oleh pendidik adalah Inkuiri Apresiatif. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada identifikasi masalah, tetapi juga merayakan keberhasilan dan potensi peserta didik. Artikel ini akan menggambarkan aksi nyata seorang guru dalam menerapkan kompetensi yang dimiliki dengan menggunakan pendekatan ini dalam konteks pembelajaran di kelas.

Apa itu Inkuiri Apresiatif?

Inkuiri Apresiatif adalah pendekatan yang berorientasi pada penguatan bakat dan potensi individu. Alih-alih mencari kekurangan atau masalah, pendekatan ini lebih menekankan pencarian aspek-aspek positif dan solusi yang dapat dikembangkan. Melalui dialog dan kolaborasi, peserta didik diajak untuk mengeksplorasi pengalaman, nilai, dan kekuatan mereka.

Langkah-langkah Aksi Nyata

1. Penilaian Awal

Sebagai langkah awal, guru melakukan penilaian awal untuk memahami minat, bakat, dan latar belakang siswa. Dalam hal ini, guru dapat menggunakan kuesioner atau diskusi kelompok kecil. Dengan cara ini, guru mendapatkan gambaran tentang potensi dan keberhasilan yang sudah dimiliki siswa.

2. Menciptakan Lingkungan yang Positif

Guru berusaha menciptakan lingkungan belajar yang aman dan positif. Dalam praktiknya, guru mengadakan sesi pembukaan yang mengajak siswa berbagi pengalaman positif belajar mereka. Misalnya, siswa diminta untuk menceritakan tentang suatu momen ketika mereka merasa bangga terhadap pencapaian mereka. Dengan pendekatan ini, siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk belajar lebih lanjut.

3. Penetapan Tujuan Bersama

Setelah menciptakan lingkungan positif, guru membimbing siswa untuk menetapkan tujuan belajar secara bersama-sama. Dalam kegiatan ini, siswa didorong untuk merumuskan pertanyaan yang ingin mereka jelajahi lebih dalam. Misalnya, dalam pembelajaran tentang materi mekanisme katup , siswa dapat mempertanyakan, "Mengapa katup perlu di stel?"

4. Eksplorasi lingkungan sekitar

Dalam implementasinya, guru membawa siswa untuk melakukan eksplorasi di lingkungan sekitar. Misalnya, melakukan kunjungan industry /bengkel  atau melihat pada engine yang masih terpasang di mobil atau bisa juga menganalisis pada sfesifikasi mobil . Siswa diajak untuk menyaksikan dan mendiskusikan hal-hal yang mereka temui 

5. Refleksi dan Penghargaan

Setelah melakukan eksplorasi, guru mengadakan sesi refleksi di mana siswa dapat berbagi pembelajaran yang telah mereka dapatkan. Melalui diskusi ini, guru menekankan pentingnya setiap kontribusi siswa dan memberikan penghargaan kepada mereka yang berpartisipasi aktif. Misalnya, guru bisa memberikan sertifikat kecil sebagai pengakuan atas inisiatif atau kreativitas siswa

6. Tindak Lanjut

Setelah sesi refleksi, guru membantu siswa merencanakan tindakan nyata yang dapat dilakukan di dalam praktek perbaikan mekanisme katup  dan menerapkan pembelajaran tersebut.

Kesimpulan

Dengan pendekatan Inkuiri Apresiatif, seorang guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator yang mendorong dan menghargai potensi peserta didik. Melalui langkah-langkah yang telah dijelaskan, guru dapat menerapkan kompetensinya dengan cara yang kreatif dan memberdayakan siswa untuk berkontribusi dalam menciptakan perubahan positif. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan siswa, tetapi juga menumbuhkan kualitas kepemimpinan dan rasa tanggung jawab di kalangan siswa, yang sangat penting dalam pembentukan karakter mereka di masa depan. 

Refleksi Pembelajaran implementasi konsep pendidikan Kihajar Dewantara


Oleh : Abdul Rohman, S.Pd, Gr

Guru SMKN 1 Cilengkrang Kab. Bandung 

 Dalam dunia pendidikan, penerapan konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan mendekatkan proses pendidikan kepada anak. Berikut adalah hasil dari penerapan konsep tersebut di kelas dengan mengikuti pola refleksi.

1. Peristiwa yang Terjadi Selama Mempelajari Materi Refleksi Pendidikan Nasional

Selama proses pembelajaran mengenai refleksi pendidikan nasional, terjadi beberapa peristiwa yang signifikan. Di kelas, siswa diajak untuk berdiskusi tentang materi pembelajaran dengan menerapkan prinsip-prinsip pendidikan yang berorientasi pada murid. Kami melakukan simulasi pembelajaran, di mana mereka diberi kesempatan untuk merancang kegiatan belajar sesuai dengan minat mereka sendiri. Hal ini tidak hanya membuat suasana kelas lebih hidup, tetapi juga meningkatkan partisipasi siswa. Terjadi beberapa momen inspiratif ketika siswa berbagi ide dan pengalaman masing-masing, menunjukkan kepedulian dan minat mereka terhadap pendidikan yang lebih inklusif dan menyenangkan.

2. Perasaan Selama Melakukan Perubahan di Kelas

Selama melakukan perubahan dalam proses belajar, saya merasakan beragam emosi. Pada tahap awal, ada rasa cemas dan khawatir tentang bagaimana siswa akan merespons perubahan ini. Namun, saat siswa menunjukkan antusiasme dan kreativitas dalam kelas, rasa cemas tersebut perlahan menghilang. Saya merasa bangga dan bersemangat melihat mereka berpartisipasi aktif, serta saling mendukung satu sama lain. Perubahan ini juga memberikan rasa kepuasan tersendiri, karena saya bisa melihat kemajuan yang dibuat siswa dalam memahami konsep pendidikan yang lebih berorientasi pada mereka.

3. Pembelajaran Berkaitan dengan Ide atau Gagasan yang Timbul Sepanjang Proses Perubahan

Selama proses perubahan ini, banyak ide dan gagasan baru yang muncul dari diskusi dan interaksi siswa. Siswa mengemukakan pentingnya pembelajaran berbasis proyek, di mana mereka dapat bersinergi dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas-tugas menarik. Selain itu, mereka juga berpendapat tentang perlunya lebih banyak waktu untuk eksplorasi dan eksperimen dalam belajar. Gagasan-gagasan ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya memahami konsep pembelajaran yang diberikan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi pemikiran untuk memperbaiki metode pembelajaran di kelas.

4. Penerapan Ke Depan yang Akan Dilakukan di Kelas 

Berdasarkan refleksi diri yang dilakukan, ada beberapa penerapan yang akan dilakukan ke depan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Pertama, saya akan lebih sering menerapkan metode pembelajaran yang partisipatif, di mana siswa diberi lebih banyak kesempatan untuk berperan aktif dalam proses belajar. Kedua, saya berencana untuk mengimplementasikan lebih banyak proyek kelompok yang memungkinkan siswa untuk berkolaborasi dan belajar dari satu sama lain, sesuai dengan prinsip "dari, oleh, dan untuk murid" yang diusung oleh Ki Hadjar Dewantara. Ketiga, evaluasi akan dilakukan tidak hanya melalui ujian tertulis, tetapi juga melalui portofolio dan presentasi proyek agar siswa bisa mengekspresikan pemahaman mereka dengan cara yang berbeda.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan pembelajaran di kelas dapat semakin relevan dan menyenangkan, sehingga siswa tidak hanya belajar materi, tetapi juga mampu membentuk karakter dan kepribadian yang baik, sesuai dengan visi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. 

VIDEO PEMBELAJARAN 


Selasa, 05 November 2013

SELAMAT TAHUN BARU 1435 H


Kamis, 24 Oktober 2013

GURU TELADAN

Pada dasarnya perubahan prilaku yang dapat ditunjukan oleh peserta didik dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman yang dimiliki oleh seorang guru. Atau dengan kata lain guru mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku peserta didik. Untuk itulah guru harus dapat menjadi contoh (suri tauladan) bagi peserta didik, karena guru adalah refresentatif dari sekelompok orang pada suatu komunitas atau masyarakat yang diharapkan dapat menjadi teladan, yang dapat digugu dan ditiru.
Keteladanan adalah making something as an example, providing a model yang artinya, menjadikan sesuatu sebagai teladan. Istilah keteladanan banyak diadopsi dari bahasa Arab uswah yang terbentuk dari huruf-huruf “hamzah”, “as-sin”, dan “al-waw”. Secara etimologi, setiap kata bahasa Arab yang terbentuk dari ketiga huruf tersebut memiliki persamaan arti yaitu pengobatan dan perbaikan. Ibn Zakaria dalam Arief (2002) menjelaskan bahwa uswah dapat diartikan dengan qudwah yang merujuk pada makna mengikuti atau yang diikuti.
Keteladanan adalah segala sesuatu yang terkait dengan perkataan, perbuatan, sikap, dan prilaku seseorang yang dapat ditiru atau diteladani oleh pihak lain. Sedangkan guru atau pendidik adalah pemimpin sejati, pembimbing dan pengarah yang bijaksana, pencetak para tokoh danpemimpin umat (Isa, 1994). Jadi, keteladanan guru adalah contoh yang baik dari guru baik yang berhubungan dengan sikap, prilaku, tutur kata, mental, maupun yangterkait dengan akhlak dan dan moral yang patut dijadikan contoh bagi peserta didik. Hal ini penting dimiliki tenaga pendidik untuk dijadikan dasar dalam membangun kembali etika, moral, dan akhlak yang sudah sampai pada tataran yang menyedihkan.
Guru adalah pemimpin opini, sehingga harus memiliki keteladanan yang dapat ditiru dan diikuti oleh kebanyakan pihak lain. Tenaga pendidik merupakan opinion leader dalam lingkungan institusi pendidikan juga memiliki posisi sentral dalam membentuk karakter atau kepribadian peserta didik. Keteladanan dalam diri seorang pendidik berpengaruh pada lingkungan sekitarnya dan dapat memberi warna yang cukup besar pada masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan, keteladanan itu akan mampu mengubah prilaku masyarakat di lingkunganya. Sosok tenaga pendidik seperti guru, atau dosen dengan profesinya melekat di mana saja mereka berada, sehingga kata „‟ guru ‟‟ selalu dipergunakan sebagai identitas, baik ketika melakukan aktivitas yang berkaitan dengan dunia pendidikan, maupun kegiatan di luar ranah pendidikan. Sekalipun demikian, karakteristik dan indikator guru teladan itu masih menjadi sangat dilematis mengingat belum adanya standar baku yang dapatdijadikan landasan dasar untuk membangun keteladanan itu sendiri.
Salah satu karakteristik yang perlu dimiliki oleh guru sehingga dapat diteladanioleh muridnya adalah kerendahan hati (Santoso, 2008). Guru akan memiliki kebribadian yang diidolakan jika berani mengakui kesalahan (jika memang telah terjadi kesalahan)sebagai perwujudan kerendahan hati. Sering terjadi, seorang guru dengan dalil menjaga kewibawaan sering tidak berprilaku rendah hati di hadapan siswa padahal guru tidak menyadari bahwa setiap langkah, tutur kata, cara pandang, dan berbagai respon yang ditampilkan menjadi bahan penilaian dan pembicaraan bagi para siswa.Tentu saja keteladanan buruk mengacaukan pemahaman mereka, yang berujung pada pencitraan konsep diri menjadi kurang baik. Pada prinsipnya, terdapat korelasi positif antara keteladanan guru dan kepribadian siswa, yang oleh Johnson digambarkansebagai “ No matter how brilliant your plan, it won’t work if you don’t set an example ” (bagaimana pun briliannya perencanaan anda, itu tidak akan berjalan jika tidak dibarengi dengan keteladanan). Dengan demikian, guru dipandang sebagai sumberketeladanan karena sikap dan perilaku guru mempunyai implikasi yang luar biasaterhadap siswa (Nuh, 2009)
Lebih jauh Abdullah Nashih Ulwan dalam Dwiastuti (2006) memberikan resep untuk membentuk keteladanan guru dan orang tua dalam membentuk kepribadian anak. Keteladanan orang tua meliputi: kejujuran, amanah, iffah (menjaga diri dariperbuatan yang tidak diridhoi), pemberian kasih sayang, perhatian, menyediakan sekolah yang cocok, dan memilihkan teman bagi anaknya. Sebagai pendidik, orang tua harus menampilkan sifat-sifat tersebut anak dapat memiliki pondasi nilai-nilai yang kokoh sebagai bekal untuk menapaki kehidupan selanjutnya. Sedangkan keteladanan yang perlu dicontohkan guru kepada siswanya mencakup ketakwaan, keikhlasan,keluasan ilmu, sopan-santun, dan tanggung jawab.Berdasarkan pandangan tersebut di atas, keteladanan tenaga pendidik yangharus ditanamkan ke pada peserta didik mencakup integritas, profesionalitas, dan keikhlasan.
1. Integritas
Integritas dalam Kamus Landak (2010) didefinisikan sebagai “wholeness,completeness, entirety, unified “. Keutuhan yang dimaksud adalah keutuhan dalamseluruh aspek hidup, khususnya antara perkataan dan perbuatan. Integritas berarti, “the condition of having no part taken away ” atau ” the character of uncorrupted virtue.” Seringkali kita menggunakan kata integritas, etika, dan moralitas secarabergantian untuk menunjukkan maksud yang sama. Padahal secara sederhana,etika adalah standar tentang mana yang benar dan salah, baik dan jahat. Apa yang kita pikir benar dan baik, itulah etika kita. Sedangkan moralitas adalah tindakan aktual tentanghal yang benar dan salah, baik dan jahat. Jadi, kalau etika ada di level teoretik, makamoralitas ada di level praktik. Integritas sendiri adalah integrasi antara etika danmoralitas. Semakin terintegrasi, semakin tinggi level integritas yang ada (Glorianet,2010: 3). Dengan demikian, integritas dapat menghasilkan sifat keteladanan seperti kejujuran, etika, dan moral.
Kejujuran adalah investasi sosial yang harus dimiliki dan ditulari oleh guru untukmenimbulkan kepercayaan dari murid dan orang tua, masyarakat, dan parastakeholder. Kejujuran adalah mengakui, berkata atau memberikan suatu informasiyang sesuai kenyataan dan kebenaran. Dalam praktek dan penerapannya, secarahukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apayang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Bilaberpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidaksesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yangsebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu,mungkir, berbohong, munafik atau lainnya. Oleh karena itu, kejujuran harus menjadisenjata yang paling ampuh bagi guru dalam menjalankan tugas prefesinya sehingganilai-nilai kejujuran itu dapat ditanamkan dalam diri siswa atau peserta didik
Moral dan etika pada hakekatnya merupakan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yangmenurut keyakinan seseorang atau masyarakat dapat diterima dan dilaksanakansecara benar dan layak. Dengan demikian prinsip dan nilai-nilai tersebut berkaitandengan sikap yang benar dan yang salah yang mereka yakini. Etika sendiri sebagaibagian dari falsafah merupakan sistim dari prinsip-prinsip moral termasuk aturan-aturan untuk melaksanakannya (Suryokusumo, 2010). Jadi, integritas yang ditunjukkan olehguru dalam menjalankan tugas berdasarkan profesi keguruannya berupa adalahkejujuran, kepatuhan, etika, dan moral seharusnya mengakar dalam pribadi gurusehingga dapat menjadi idola bagi siswanya.
2. Profesionalitas
Profesional berasal dari kata profesi yang artinya satu bidang pekerjaan yangingin atau akan ditekuni oleh seseorang. Pengertian profesional adalah pekerjaan ataukegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupanyang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan, yang memenuhi standar, mutuatau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (Undang-undang RepublikIndonesia Nomor 14 Tahun 2005). Berbicara mengenai profesional, pemikiran orang tertuju pada dua hal. Pertama , orang yang menyandang suatu profesi. Orang yang profesional biasanya melakukan pekerjaan sesuai dengan keahliannya dan mengabdikan diri pada pengguna jasa dengan disertai rasa tanggung jawab atas kemampuan profesionalnya itu.
Kedua , kinerja seseorang dalam melakukan pekerjaanyang sesuai dengan profesinya (Saudagar dan Ali Idrus, 2009). Profesi adalah suatu jenis pekerjaan yang berkaitan dengan bidang (keahlian, keterampilan, teknik) tertentu,semakin ahli, maka semakin profesional pekerjaannya. Sedangkan yang dimaksud dengan profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut: (1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme, (2) memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia, (3) memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas, (4) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas, (5) memiliki tanggung jawab atas pelaksanaantugas keprofesionalan, (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja, (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secaraberkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat, (8) memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, dan (9) memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. Prinsip-prinsip tersebut tercermin dalam setiap cara berpikir,bertindak dan berprilaku baik dalam menjalankan aktivitas pembelajaran di sekolahmaupun setelah berada di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Profesionalisme adalah kemahiran yang dimiliki oleh seorang yang profesional(Princeton, 2009). Dengan kata lain, profesionalisme dipandang sebagai suatu keahlianyang melekat pada diri seseorang dalam melakukan segala bentuk pekerjaan secara profesional. Lebih jauh profesionalisme merupakan proses pemberian pekerjaan yang menjadi profesi untuk mencapai status profesional. Profesionalisasi adalah prosesatau perjalanan waktu yang membuat seseorang atau kelompok orang menjadi profesional. Sedangkan, profesionalitas merupakan sikap para anggota profesi yang benar-benar menguasai profesi yang dimilikinya. Dalam perspektif teori yang berhubungan dengan praktek-praktek pendidikan, konsep professionalism (profesionalisme), professionality (profesionalitas, and professional development (pengembangan professional) sering menjadi kajian menarik untuk didiskusikan.
Pengembangan professional juga dipandang sebagai kegiatan yang berorientasi pada tujuan untuk memperbaiki pembelajaran (Keller, 2003). Pengembangan professional sering digunakan secara sinonimik dengan pengembangan staf dan pengembangan guru yang merujuk pada segala upaya yang dilakukan untuk memperbaiki pembelajaran yang dilakukan dalam suatu lembaga pendidikan. Jadi, yang dimaksud dengan profesionalisme guru di sini adalah komitmen guru sebagai tenaga pendidik yang memiliki keahlian dalam ilmu kependidikan dan secara terus-menerus meningkatkan kemampuan untuk melalukan tugas-tugas keprofesionalannya. Dengan demikian, guru profesional adalah guru yang memiliki idealisme, komitmen, kualified, kompeten, tanggungjawab, prediktif, analitik, kreatif, dan demokratis. Siswa yang menjadikan guru sebagai idola akan berusaha untuk mencontohi dan meneladani sifat-sifat professional ini dalam bertindak dan bertutur.
3. Keikhlasan
Nampaknya integritas dan profesionalitas saja belum dapat membangunpersonalitas tenaga pendidik yang patut dijadikan contoh bagi peserta didik, tetapiharus melibatkan keikhlasan yang terlahir dari hati yang bersih dan akhlak yang terpuji.Keikhlasan adalah suatu kondisi jiwa yang termotivasi secara intrinsik untuk melakukansuatu perbuatan atas dasar penyerahan diri ke pada sang pencipta, bukan karenamotivasi ekstrinsik ingin dilihat dan didengar, mendapatkan pujian serta kedudukanyang tinggi dari orang lain.
Tanesia dan Daniel (2010) dan Santoso (2010) menjelaskan tentang hakekat ikhlas yang menghasilkan berbagai manfaat dalam menjalankan tugas. Pertama ,keikhlasan dapat menjernihkan pikiran seseorang untuk berbuat demi untukkemaslahatan umum, berpikir jauh ke depan, dan tidak berpikir primordial. Segalaperbuatan, perkataan, dan perasanaan secara totalitas dipersembahkan kepadakeridhaan sang pencipta. Kedua , terhindar dari keinginan dan perbuatan buruk yang tidak mendatangkan manfaat. Pengorbanan waktu, tenaga, dan harta hanya untuktujuan mendatangkan kebaikan bagi semua orang. Ketiga , segala kontribusi yangdiberikan bukan untuk ditukarkan dengan segala sesuatu yang berbentuk materi,melainkan bernuansa sosial. Keempat , mengembangkan silaturahim antara sesamamanusia. Seorang guru dalam melaksanakan profesinya, seharusnya mengintegrasikankeikhlasan ini dalam mengiringi setiap aktivitas pembelajaran sehingga menjadi modalsocial yang perlu diteladani oleh peserta didik.Sebagai kesimpulan, keteladanan pendidik untuk memiliki integritas,profesionalitas, dan keikhlasan akan dapat membangun karakter peserta didik sehinggamampu mengintegrasikan nilai-nilai kejujuran, moral, etika, kepatuhan, keikhlasan,keluasan ilmu, sopan-santun, dan tanggung jawab ke dalam perkatanaan, perasaan,sikap, dan prilaku yang berujung pada pembangunan karakter bangsa secara keseluruhan.